Pemerintah baru saja merilis capaian indikator perpajakan yang sangat kontras dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan resmi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang dimuat oleh Harian KONTAN pada Rabu, 15 Juli 2026 di Halaman 2, angka tax buoyancy Indonesia pada Semester I-2026 mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan menyentuh angka 2,25.
Lonjakan ini memicu diskusi hangat di kalangan ekonom, otoritas fiskal, dan pelaku usaha. Pasalnya, lompatan besar ini terjadi di tengah kondisi harga komoditas global—seperti batubara dan nikel—yang sudah kembali ke tingkat normal, serta hilangnya dukungan insentif masa lalu seperti Program Pengungkapan Sukarela (PPS).








