Sebelumnya kita sudah membongkar bagaimana mindset “berburu di kebun binatang” bikin konsep Cooperative Compliance (kepatuhan kooperatif) cuma jadi jargon manis. Otoritas kita masih sering melihat Wajib Pajak (WP) di dalam sistem dengan kacamata penuh curiga, seolah mereka adalah “binatang liar” yang siap menerkam kapan saja.
Nah, kalau di hulu cara pandangnya sudah bernuansa penindakan (coercive), jangan heran kalau di hilir, instrumen secanggih apa pun akan bermutasi menjadi senjata yang agresif.
Di sinilah kita perlu bicara soal CRM atau Compliance Risk Management. Bagi yang belum akrab, CRM ini adalah sistem analitik pintar yang dipakai otoritas pajak untuk memetakan tingkat risiko kepatuhan kita. Keren, kan? Tapi sayangnya, di lapangan, fungsi alat keren ini perlahan bergeser dari alat pemeta risiko menjadi mesin surveilans data yang bikin dahi Wajib Pajak berkerut.








